Rejuvenasi pendidikan, Pendidikan Indonesia (sudah) berada di pucuk jurang stagnasi


Pendidikan, dan realitas yang tersaji

Fakta!! Laporan Departeman Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan pula bahwa setiap menit ada empat anak yang putus sekolah. Bahkan pada tahun 2010 usia sekolah yakni 7-15 tahun yang terancam putus sekolah sebanyak 1,3 juta

Percaya atau tidak, kenyataannya pendidikan boleh dianggap tonggak dari segala aspek kehidupan, yakni sosial, politik, ekonomi, hukum bahkan kultur pun dibangun berdasar pilar pendidikan. Pendidikan semakin memainkan peranan penting tatkala perkembangan zaman sudah memasuki era globalisasi yang menuntut adanya akselerasi kualitas dalam menghadapi persaingan internasional. Baik individu maupun sistem akselerasi global, dirasa sangat berpengaruh untuk menentukan arah sekaligus memberikan gambaran tentang Indonesia kedepannya.

Persaingan Indonesia sebagai negara berkembang jika dirfunut dalam segi pendidikan saat ini boleh dikatakan dalam level yang masih kurang baik. Berdasarkan laporan Education for All Global Monitoring Report yang dirilis UNESCO tahun 2012, menempatkan Indonesia pada peringkat 64 dari 120 negara dalam Education Development Index (EDI). Total nilai EDI diperoleh dari rangkuman perolehan empat kategori penilaian, yaitu angka partisipasi pendidikan dasar, angka melek huruf pada usia 15 tahun ke atas, angka partisipasi menurut kesetaraan gender, dan angka bertahan siswa hingga kelas V Sekolah Dasar (SD). Global Monitoring Report ini adalah laporan yang digunakan sebagai hasil dari monitoring kualitas pendidikan negara-negara di dunia.  Continue reading “Rejuvenasi pendidikan, Pendidikan Indonesia (sudah) berada di pucuk jurang stagnasi”

Teknologi sebagai “Pelayan” Masyarakat


Kebutuhan teknologi sebagai salah satu pengembang hadirnya era baru saat ini diyakini menjadi tren tersendiri yang bisa menghadirkan daya tarik lebih, apalagi dibarengi dengan berbagai layanan yang memang hadir bersamanya. Salah satu konteks yang memang paling anyar dilihat, adalah bagaimana dengan adanya teknologi jarak bukan lagi menjadi satu halangan bagi sesorang untuk terhubung. Pernah ingat dibenak saya, ketika telepon menjadi satu kebutuhan tertier, yang kala itu menjadi satu kebutuhan yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang mampu saja.

Continue reading “Teknologi sebagai “Pelayan” Masyarakat”