Kelopak Mata Pukul Tiga


Kelopak mata ini sudah naik turun dari satu jam yang lalu. Iramanya pun sudah tak sama. Tubuh, sudah mulai terkapar dengan tenaga yang sudah mulai susut keberadaannya. Kaki ini, sudah tidak mampu menopang berat tubuhku meski hanya untuk sebentar, berjalan ke arah dapur untuk mengambil secangkir air minum dari tempatnya. Lelah. . Hingga otak, sudah tidak berurutan alur neuron-neuronnya, mengingat satu hari penuh pun sudah tidak tersampaikan, hanya berjalan tak berarah, gontai setapak demi setapak, duduk, terhempas, tak berpola.  Continue reading “Kelopak Mata Pukul Tiga”

Kriiiiiiiiing!!


Dibalik hujan ini, satu persatu rindu terkumpul menyatu
Menyanyikan sajak yang tak layak ku dengar
Aku, kamu, waktu dan satu,
hamparan sengit dari garis Tuhan yang terbaik

Dibalik hujan ini, rindu terkumpul rapih dalam satu puzzle waktu
Gambaran tangan menggambar apik bayangan sang putri cantik, mega mendung.
Tak ada yang baik, selain penantian bukan?
Menantikan dewa puzzle yang menyatukan kepingan puzzle-puzzle itu.
tapi kapan? Apakah menunggu pangeran jangkrik menemukan permaisurinya?

“kringggggggggggg”, suara telepon kecil itu membuyarkan
Ah, ceracau itu, lupakan sajalah!!

Bandung, 31 Agustus 2012 – sembari menunggu jam pulang kantor, pukul 5 sore

Melodi indah hari ini


Aku tergelitik akan pantulan jari jemarinya yang lentik
Lembut, menarik, liukannya menunjukkan rasa percaya diri yang apik
Benar-benar berasa air yang menetes setitik demi setitik

Terkadang, sembari aku berpikir bekerja berlarian dengan tugas
Ketikan itu menjadi satu alunan melodi yang lugas,
tegas tapi tanpa bekas.
Memuai dalam udara yang menyebar hingga ke ujung tapal batas

Sebuah Irama melodi yang kurasa indah, dalam rangkaian bunga kebosanan.

Lembong, 16 Juli 2012