Batman Rasa Cokelat


Mas Petruk, bak Batman Rasa Cokelat

Hari ini, kampus menjadi tempat mencurahkan segala penat. Bukan membaca, bukan menulis, bukan pula mendengar, hanya membuang penat lewat menulis. Itu saja! Tapi mau membuang seperti apapun, yang dibuang juga pastinya tidak bernilai. Yang jelas, meskipun bernilai terkadang kita enggan berdekatan dengannya. Tapi seandainya emas yang dibuang? Entahlah. Tapi yang pasti hari ini yang ku buang bukanlah emas. Ah, lupakan saja.

“Jedaaaaaaar, jedeeeeeeer”, suara menggelegar membuyarkan lamunan di pojok kamar tadi malam. Rupanya, penduduk kota Gotham sedang asyik berbicara dengan kangmas Petruk di sebelah pos ronda dekat rumah Bu Haji Karti. Lah kok bisa sampe jedaaaaaar, jedeeeeeeeer? Ya karena saking berwibawa cara ngomongnya Petruk, semangatnya sudah berasa seperti mau pidato kemerdekaan saja, meskipun hanya sebatas ngobrol di pos ronda. Bahkan sekali ngomong, Kadipaten Bojongsoang, Buah Batu, Mengger yang notabene desa-desanya para artis kota Mbandung pun bisa dengar suara Petruk dari kejauhan. Padahal jaraknya lumayan berkilo-kilo. Sampe-sampe pedagang sound sistem sudah hafal dan paling ogah kalo mau menyewakan alat-alatnya buat Petruk berpidato di pos ronda sana. Bukannya malah untung, tapi selesai pidato yang ada malah pedagang pada buntung. Buntung gimana? Ya banyak, ada buntung rokok Dji Sam Soe, buntung rokok Djarum, buntung rokok Marlboro. “Ikuuuuu putung mas(1), tetanggaku Yu Darmiem menyela. “Oh iya, saya lupa yu, maklum mahasiswa tingkat akhir, pelupanya selalu rangking 1 tingkat nasional”, saya cuma pasang senyum saja sewaktu membalas perkataan Yu Darmiem itu. 🙂 Continue reading “Batman Rasa Cokelat”

Tentang Kekuasaan, atau apalah . .


Suatu saat, pembicaraan mas gareng dan dik petruk tertangkap kameramen Running Man yang sedang bertugas.

“Bayangkan saja, realitas jaman sekarang, yang ada entah di kampus entah di masyarakat, kekuasaan jadi satu jalan untuk mengubah arah pandang golongan dibawahnya. Tebar pesona, tarik gagasan, galang massa, perlahan sudah mulai di bangun padahal waktu pencoblosan masih beberapa bulan lamanya. Entah itu salah, mau merugikan atau apapun, yang penting kaum pro banyak, trik seperti ini sudah cukup untuk dapat kursi nomor satu. Ah, kalo seperti ini terus, yang jujur-jujur bakal jadi punguk merindukan bulan kali ya?”, cerocos mas gareng kepada dik petruk di pojok pos ronda deket kampus biru. Continue reading “Tentang Kekuasaan, atau apalah . .”