Kebahagiaan Itu Sederhana Kan?


Masa kanak-kanak itu adalah masa dimana semuanya menganggap “kebahagiaan itu sederhana“. Bermain bola dari kertas, bermain dibawah hujan, saling lempar lumpur disawah, mandi di sungai, bahkan mendapatkan layangan putus seharga Rp. 500 saja senangnya minta ampun. Mereka tidak pernah melihat, bagaimana membuat bola yang sempurna ketika bermain, tidak pernah berpikir bagaimana susahnya mencuci baju yang kotor, bagaimana kondisi (bersih atau tidaknya) air yang mengalir, bahkan apa saja bahaya mengejar layangan putus seharga Rp. 500 kan?
Continue reading “Kebahagiaan Itu Sederhana Kan?”

Cerita Kecil: Tendangan dari Kaki Slamet


Beberapa pekan ini saya agak sering pulang ke kampung halaman di Pemalang, ya lumayan, meskipun hanya sebentar, tapi setidaknya orang tua gak sms terus gara-gara gak pulang pulang itu. Ya maklum, berhubung jarak yang membatasi antara Bandung-Pemalang, akhirnya pulang menjadi satu kegiatan yang jarang diakukan, mungkin kalo ada mahasiswa ikutan Partai Bang Toyib, saya jadi penampakan terdepan di reklame-reklame pinggir jalan mungkin. 🙂

Seperti biasa, ritual awal pulang kampung, jalan-jalan pake motor keliling desa sambil cengar cengir ala boiben, menjadi kegiatan wajib pembuka pulang kampung. Akhirnya saya putuskan untuk sedikit melewati SD saya dulu, SD N 7 Banyumudal *promosidikit*, yang sekarang sudah bagus banget, gak kayak dulu pas tahun 90an yang masih sederhana, dengan tembok-tembok sekolah berlukiskan “cap bola sepak” yang dibuat anak-anak pada waktu jam istirahat, mungkin di dalamnya pun ada lukisan saya juga kali ya. Tapi eh tapi, meskipun sederhana, tidak sekalipun mengurangi kisah romansa cinta ala anak SD, ya apalagi kalo bukan kisah romansa cinta sang monyet-monyet berseragam putih merah yang katanya sampai sekarang selalu malu sama semut merah yang berbaris di dinding. Ah, tapi yang perlu diinget, saya bukan termasuk monyet-monyet di dalamnya ya! 😉  Continue reading “Cerita Kecil: Tendangan dari Kaki Slamet”