Malam Tak Pernah Menyala


Kehidupan dunia selalu terjamah antara siang dan malam, atau bahkan keduanya. Dan kenyataannya, malam itu tidak diam, dia hanya menuangkan gagasan yang bukan pada tempat kebiasaanmu. Bahkan malam “bagi para penikmatnya” terkadang memberikan inspirasi di luar batas kemampuan siang untuk merajut cerita. Bayangkan saja, kebisingan, keramaian, kehangatan sudah tidak berlaku bagi malam. Tapi, hanya kegelapan, kesunyian, serta banyaknya kesakitan koridor-koridor ruang otakmu yang merambah tanpa batas disana. Kawin, beranak pinak, bahkan penuh sesak berjubel untuk mengantri masuk ke otakmu yang hanya seperempat einstein bahkan kurang. Tertumpuk, hingga berjejer bukit-bukit pesakitan yang tingginya naik turun, tak ada yang persis sama. Continue reading “Malam Tak Pernah Menyala”

Entah Mengapa versi Kedua: Daktarin Masa Milenium


Hari ini, saya punya tiga versi “entah mengapa”.

Pertama,
Entah mengapa, hari ini begitu melelahkan, sudah seminggu lebih atau bahkan dua minggu lebih jam tidur berubah total, ya berubah total. Waktu shubuh menjadi ajang pertama memejamkan mata, siang menjadi pagi, malam menjadi sore. Dan tahukah yang lebih menyebalkan? Kepala ini serasa dipukul, si “penat” berkumpul tepat di tengah dahi. Setia duduk, sambil tidak melakukan apapun, bahkan mundur atau maju selangkahpun tidak. Mau dikata apa, sekarang si “penat” sudah menjadi teman setiaku setiap hari, tak ada yang menduakanku dari apapun kata dia.  Continue reading “Entah Mengapa versi Kedua: Daktarin Masa Milenium”