Kekasih, sedang apa kau disana?


Kekasih, sedang apa kau disana?
Masih kah kau berkutat dengan tugas akhirmu yang seabrek itu?
Entah kenapa, sekarang langit bandung masih tetap sama. Merah merona langit, memerahkan setiap jalan menemani orang-orang sepulang kerja. Berbondong-bondong, dari arah buah batu, hingga dayeuh kolot tak pernah senggang dari motor-motor, mobil-mobil sampe bapak-bapak pendorong gerobak yang mungkin akan memasang tenda-tenda jualan malam ini. Macet, memang. Bandung seakan tak pernah rela sepi beranjak dari peraduan itu. Hujan sudah memudar perlahan. Jalan-jalan berdebu menandakan ia tak pernah bersentuhan dengan senyuman air Tuhan. Suasana kampus sudah berada seperti adanya. Semenjak berubah menjadi universitas, lingkungan kampusku menjadi ramai, mungkin sama halnya dengan kampus Ganesha di jalan Dago sana. Aku menulis ini, karena aku teringat sore itu, senyummu merona.

Continue reading “Kekasih, sedang apa kau disana?”

Bisa Jadi


Mari sedikit kita mengerti akan dua kata, bisa jadi

Bisa jadi, yang “kau anggap kekasihmu sekarang“, bukanlah seseorang yang Tuhan takdirkan untukmu. 
Bisa jadi, yang “kau sebut-sebut spesial” di semua media sekarang, bukanlah seseorang yang Tuhan takdirkan untukmu. 
Bisa jadi, yang “bersamamu dengan foto profpicmu sekarang“, bukanlah seseorang yang Tuhan takdirkan untukmu. 
Bisa jadi yang kau tampilkan “In relationship with” sekarang, bukanlah seseorang yang Tuhan takdirkan untukmu. Continue reading “Bisa Jadi”