Suntuk


Sepenggal tulisan lama dari tumpukan sisa-sisa kegiatan menulis satu tahun yang lalu ketika patah tulang.

Pemalang, 12 Maret 2014

Hampir 3 bulan sudah, terkapar lebih banyak di rumah. Menikmati udara lembab musim penghujan. Membuat keluar untuk melihat udara sekitar saja malasnya minta ampun. Hujan setiap hari, apalagi luka balut yang harus dijaga untuk tidak terkena air membuat “lagi-lagi” memilih untuk di rumah. Belum jalan yang agak rusak akibat pengikisan oleh hebatnya tubrukan air yang turun dari langit. Goncangan sedikit saja, tangan yang patah masih belum bisa mentoleransi hal itu. Padahal, sudah hampir 3 bulan.

Continue reading “Suntuk”