Kekasih, sedang apa kau disana?


Kekasih, sedang apa kau disana?
Masih kah kau berkutat dengan tugas akhirmu yang seabrek itu?
Entah kenapa, sekarang langit bandung masih tetap sama. Merah merona langit, memerahkan setiap jalan menemani orang-orang sepulang kerja. Berbondong-bondong, dari arah buah batu, hingga dayeuh kolot tak pernah senggang dari motor-motor, mobil-mobil sampe bapak-bapak pendorong gerobak yang mungkin akan memasang tenda-tenda jualan malam ini. Macet, memang. Bandung seakan tak pernah rela sepi beranjak dari peraduan itu. Hujan sudah memudar perlahan. Jalan-jalan berdebu menandakan ia tak pernah bersentuhan dengan senyuman air Tuhan. Suasana kampus sudah berada seperti adanya. Semenjak berubah menjadi universitas, lingkungan kampusku menjadi ramai, mungkin sama halnya dengan kampus Ganesha di jalan Dago sana. Aku menulis ini, karena aku teringat sore itu, senyummu merona.

Continue reading “Kekasih, sedang apa kau disana?”

Jalan Alternatif


Seminggu lalu aku menemukan jalan alternatif. .
Lumayan, Geger Kalong Girang-Dago lancar tak kena macet
Ciwalk diterobos, meskipun mobil berjejer mepet-mepet
Masuk sana-masuk sini, goyang sana-goyang sini
Pantengin speedometer, tampakkan nyali
Gigi satu, dua, tiga, empatpun tak perlu lama berganti
Satu per satu, jadi frase yang ku senangi
Jalan kosong, bak kacang polong yang sudah melompong

Sungguh jalan alternatif. . .

Lembong, 23 Juli 2012