Berbicara tentang Siap dan Ideal


Malam ini masih sama. Di tempat dan stasiun yang sama, pukul 11 malam. Penjual kopi jahe depan stasiun dengan lihai menyiapkan gelas pesanan dari penumpang-penumpang yang sedari tadi duduk-duduk santai sambil ngudud bahas pembangunan Pemalang yang jauh dari kata ideal. Beberapa orang beranjak dari perantauannya, sesekali melihat jarum jam bergerak perlahan -sangat perlahan-. Menunggu memang menjemukkan. Tetapi jika berbau rindu, pun orang mana yang mampu beradu?  Continue reading “Berbicara tentang Siap dan Ideal”

. . . Karena Kau Menulis


“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari”. (Mama, 84) – Pramoedya Ananta Toer

Kuncinya?
1. Bangun “cinta” disana,
2. Biarkan dia menuntunmu.

Mari (sempatkan) Menulis. – penulis 🙂

Jakarta | 12 Juni 2015 

Liefde da Regen


Terkadang banyak sekali manusia bertahan hidup atas nama cinta. Mungkin dalam bentuk yang lebih sederhana, merekalah yang menciptakan cinta. Bahkan Tuhan, “tak bisa berbuat apa-apa” saat cinta sudah mereka genggam. Ia membutakan. Continue reading “Liefde da Regen”

Kekasih, sedang apa kau disana?


Kekasih, sedang apa kau disana?
Masih kah kau berkutat dengan tugas akhirmu yang seabrek itu?
Entah kenapa, sekarang langit bandung masih tetap sama. Merah merona langit, memerahkan setiap jalan menemani orang-orang sepulang kerja. Berbondong-bondong, dari arah buah batu, hingga dayeuh kolot tak pernah senggang dari motor-motor, mobil-mobil sampe bapak-bapak pendorong gerobak yang mungkin akan memasang tenda-tenda jualan malam ini. Macet, memang. Bandung seakan tak pernah rela sepi beranjak dari peraduan itu. Hujan sudah memudar perlahan. Jalan-jalan berdebu menandakan ia tak pernah bersentuhan dengan senyuman air Tuhan. Suasana kampus sudah berada seperti adanya. Semenjak berubah menjadi universitas, lingkungan kampusku menjadi ramai, mungkin sama halnya dengan kampus Ganesha di jalan Dago sana. Aku menulis ini, karena aku teringat sore itu, senyummu merona.

Continue reading “Kekasih, sedang apa kau disana?”

(Mungkin) Tuhan Menciptakan Cinta Memang untuk Membutakan


Banyak sekali yang menyebutkan cinta itu membutakan. Mungkin sebagian orang hanya mengambil kesimpulan ini karena banyak sekali melihat orang yang rela melakukan apapun “demi cinta“. Coba lihat sekeliling kita saja, teman-teman kita, saudara kita, atau bahkan kita sendiri menyadari tentang hal itu. Tidak salah memang, tapi saya punya definisi “Cinta Itu Membutakan” yang mungkin agak berbeda dari pandangan diatas. Continue reading “(Mungkin) Tuhan Menciptakan Cinta Memang untuk Membutakan”

Kebahagiaan Itu Sederhana Kan?


Masa kanak-kanak itu adalah masa dimana semuanya menganggap “kebahagiaan itu sederhana“. Bermain bola dari kertas, bermain dibawah hujan, saling lempar lumpur disawah, mandi di sungai, bahkan mendapatkan layangan putus seharga Rp. 500 saja senangnya minta ampun. Mereka tidak pernah melihat, bagaimana membuat bola yang sempurna ketika bermain, tidak pernah berpikir bagaimana susahnya mencuci baju yang kotor, bagaimana kondisi (bersih atau tidaknya) air yang mengalir, bahkan apa saja bahaya mengejar layangan putus seharga Rp. 500 kan?
Continue reading “Kebahagiaan Itu Sederhana Kan?”

Proyek Buku


Bandung, 2 Oktober 2013

#10.46 WIB
Suatu hari, di desa yang memang lumayan terpencil, hiduplah dua orang manusia yang memang berbeda jenis kelaminnya. Satu laki-laki, dan satunya perempuan. Tapi kalo satu tinggi satu pendek? Emm. . Bisa jadi, karena mereka memang seperti itu. Satu tinggi, satu pendek. Kalau dilihat sekilas, ya wajar karena satu laki-laki dan satu perempuan kan? Yang tinggi laki-laki, dan jelas, yang pendek perempuannya. Mungkin bukan pendek, hanya lebih beberapa centi saja lebih pendek dari laki-lakinya.

Aku ingin menjadi penulis“. Tulisan hitam font Times New Roman berukuran 40 hasil ngeprint dari komputer teman kuliahnya terpampang jelas di kamar kosannya. Maklum, setelah me-wisuda-kan cita-cita ingin menjadi dokter pada masa kecilnya, ia sekarang beralih menjadi seorang penulis. Besar di tahun-tahun boyband mulai keluar, girlband juga menjamur, ditambah laki-laki sekarang malah ikut-ikutan jadi cantik, atau bahkan korupsi sudah jadi trademark kebaikan untuk beberapa kalangan orang, namun tak sampai hati menyurutkan keinginannya menjadi penulis. Meskipun, sosok yang dia sukai sebenarnya bukan seorang penulis, tapi seorang penyair dan sastrawan asal ranah minang, Datuk Panji Alam Khalifatullah. Kalian tahu siapa itu? Huh, aku lupa. Mungkin sebagian besar orang mengenal beliau bukan dari nama itu, melainkan Taufik Ismail. Pasti kenal kan?  Continue reading “Proyek Buku”

Mencintaiku Tanpa “Tanda Koma”


Sanggup? [#Bandung, 25 Sept 2013]

Kedatangan dan Kepergian


Kalian tahu apa perbedaan antara Kedatangan dan Kepergian?
Terkadang kepergian itu mengajarkan kepada kita arti “evaluasi diri” antara percaya dan dipercaya, antara menyukai dan disukai, antara membenci dan dibenci. Pun juga tidak berbeda dengan kedatangan. Disana kita juga diajarkan bagaimana “mengelola diri” untuk percaya dan dipercaya, menyukai dan disukai, membenci dan dibenci.
Lalu jika hal tersebut dibalik. Kedatangan mengajarkan arti “evaluasi diri” dan kepergian mengajarkan tentang “mengelola diri” juga masih klop toh? Sepertinya memang dua hal tersebut mengajarkan makna yang sama, namun dalam kondisi yang berbeda. Tapi, dalam kenyataannya, salah satu dari dua hal itu diagung-agungkan, sehingga menjadikan jarak antara keduanya semakin jauh. Satu meninggikan, satu menenggelamkan!!  Continue reading “Kedatangan dan Kepergian”

Bisa Jadi


Mari sedikit kita mengerti akan dua kata, bisa jadi

Bisa jadi, yang “kau anggap kekasihmu sekarang“, bukanlah seseorang yang Tuhan takdirkan untukmu. 
Bisa jadi, yang “kau sebut-sebut spesial” di semua media sekarang, bukanlah seseorang yang Tuhan takdirkan untukmu. 
Bisa jadi, yang “bersamamu dengan foto profpicmu sekarang“, bukanlah seseorang yang Tuhan takdirkan untukmu. 
Bisa jadi yang kau tampilkan “In relationship with” sekarang, bukanlah seseorang yang Tuhan takdirkan untukmu. Continue reading “Bisa Jadi”