Ratapan Ibu Tiri versi film “Walking Dead”


Kalau dilihat, Fast to Furious (FtF) sudah kayak sinetron tersanjung saja. Kalian tahu kan sinetron tersanjung? Itu lo, yang waktu sinetron jaman-jaman tahun 2000-an yang pemerannya Teuku Ryan, Primus, Jihan Fahira, dll. Inget? Nah, gimana mau gak, sekarang sudah sampe FtF 6, dan kalo di akhir filmnya itu ada sedikit cuplikan film FtF 7, yang artinya tahun depan bakal ketemu lagi batang hidung-nya mas Plontos. Tapi, kalo di pikir-pikir lagi malah bagus juga ya, mungkin dengan FtF yang mungkin nantinya bakal jadi sinetron beribu-ribu episode Hanung Brahmantyo, Riri Riza, Rhoma Irama atau siapapun produser film di Indonesia bakal berasa kebakaran jenggot. Entah itu jenggotnya siapa karena mas Hanung nyatanya emang gak ada jenggotnya. Hot smile

Continue reading “Ratapan Ibu Tiri versi film “Walking Dead””

Filosofi “Wani Piro” dalam Kasus Gratifikasi Seks


Gilaaa!!

Perjalanan pulang Bandung-Pemalang kemarin hampir memakan waktu 10 jam lewat jalur selatan. Kalo dilihat itenary-nya, perjalanan pulang kemarin sampai Purwokerto saja sudah 247 km, belum menembus Pemalang. Badan, jiwa dan raga yang sudah semakin “menua” ini, hampir rontok di tengah jalan. Perjalanan dari Bandung-Rancaekek-Malangbong-Ciamis-Banjar lumayan berjalan mulus, jalan-jalan pun lumayan bagus, tapi lah kok setelah masuk perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat jalan yang tadinya alus mulus ‘kayak rajin facial sama luluran’ malah berubah drastis. Sangat disayangkan, ini lah kok jalan masih saja gak jelas. Padahal Pemprov Jawa Tengah mencanangkan Visit Jateng 2013. Memang kata bebasan “Jer Basuki Mawa Beya” itu sangat pas kalo dijadikan pondasi cerita ini, penegasan semua hal itu selalu butuh “modal” memang kudu, tapi jelas infrastruktur jalan juga harus diperhatikan, jangan hanya sekedar ngaruh-ngaruhi objek wisata saja tetapi akses menuju objek wisata malah dilupakan toh?

Tapi kali ini yang jadi topik hangat di pikiran selama perjalanan itu bukan masalah jalan, bukan pula masalah jiwa dan raga yang hampir rontok, tapi masalah Gratifikasi Seks (GS) para pemimpin negeri. Masalah gratifikasi seks ini baru pernah saya denger gara-gara Ahmad Fathonah yang ditangkap bebarengan dengan Rani (sebut saja bunga melati mewangi sepanjang hari/BMMSH). Itu loh, yang kemarin sempet jadi berita penyisip pas ada berita #siBiru yang kebakaran jenggot gara-gara hasil survey-nya mbak Grace Natalie. 

Continue reading “Filosofi “Wani Piro” dalam Kasus Gratifikasi Seks”

#siBiru, #siKuning, #siMerah


Hari ini entah kenapa, hari sepanjang sejarah per-skripsi-an. Gak kayak Circle K, atau Seven Eleven yang buka 24 jam buat tempat kongkow anak-anak muda yang begadang sampe malem cuma buat ngomongin masalah politik di Indonesia. Ya kali, kalau ngomongin politik. Tapi kalau ngomongnya berita artis yang kemarin ketangkep gara-gara narkoba bisa berabe ntar. Kok bisa? Bukannya kalo ngomongin orang melatih kita buat ngasah kemampuan kita mencerna berita? Apalagi sampai melatih kita untuk lebih speak loud sama orang lain?  Ya gak? *tanya pada infotainment dan ibu-ibu komplek sana?* 🙂

Kalo dilihat-lihat sih kata “bukankah, bukankah, bukankah” selalu jadi kata pertanyaan yang sudah melebihi pertanyaan para redaksi berita sekaligus para ahli forensik polisi, 5W+1H. Penyaingnya cuma satu menurut saya, yaitu “akankah“, yang cuma dipake sama infotaiment Silet yang penyiarnya pasang muka serem, mulutnya agak menyonyo gitu pas ngomong. Tapi, gara-gara Silet, kita seharusnya jadi paham bahwa orang yang ngomong “Mulutmu Harimaumu” itu adalah semua pembohong. Kok bisa? Bayangkan saja, selama hidup saya, gak ada tuh harimau yang ngomong mulutnya bisa menyonyo kayak penyiar Silet. #MonggoDipikir!! hehehe. .  Continue reading “#siBiru, #siKuning, #siMerah”