Make Up Terbaikmu!


Bagiku, make up terbaikmu itu cuma satu, senyumanmu. Karena Ia tak lekang oleh waktu. ūüôā

Jakarta, 11 Juni 2015 

Broto-Jani, Simbol “Gaul” Orang-orang Kampung


Kayaknya lucu juga ya, sekarang dunia ini sudah berisi wayang-wayang orang jaman sekarang. Mungkin kalau dilihat, gegara sinetron Mahabaratha dan Jodha Akbar yang sekarang sedang naik pamor di kalangan masyarakat desa, saya akhirnya lebih suka dengan kata wayang-wayang ketimbang orang-orang. Gak tahu juga, biar beda saya coba katakan seperti itu saja kali ya. hehehehe. . –Tapi anu, bukan berarti saya sering liat dua film itu lho ya

Gini. Saya itu agak heran, coba kalian pikir. Kalo sinetronnya, “mbak Dewi Sandra” yang CHSI itu sudah hilang, plus¬†“acara terong-terongan” sudah khatam dari peredarannya, saya yakin mayoritas masyarakat desa pada liat berita-berita yang sekarang sedang banyak dipergunjingkan diantara orang-orang sekitar. Pak RT, Bu RT, imam mushola, tukang bakso, sampe tukang kebun pasti gak bakal bicarain masalah Syahrini, atau bahkan Marshanda yang kini sudah “berbeda”. Apalagi ibu-ibu arisan, yang notabene jadi ajang silaturahmi tapi berkedok gosip itu. Heuheuheu. . Coba bayangkan, seandainya sudah khatam itu acara-acara sinetron gandul-gandulan eh terong-terongan, sekarang pasti mereka bakal lebih “gokil” ngegosipnya. Sudah berani ngomongin pemerintah, partai bahkan kasus PSSI. Lagipula, saya yakin ibu-ibu sudah “move on” gara-gara masalah Dude Herlino yang nikah kemarin lalu dan bahkan bapak-bapak yang juga sudah “move on” gara-gara Briptu Eka menikah beberapa waktu lalu. Heuheuheu. . Continue reading “Broto-Jani, Simbol “Gaul” Orang-orang Kampung”

Tanda Tanya dan Tanda Seru


(…)

Banyak sekali orang melihat dunia begitu kacau. Anehnya, mereka¬†hanya sebatas berkicau tanpa membunuh¬†kekacauan itu. Terkadang, –mereka malah yang saling bunuh– entah apa sebabnya.¬†Mungkin jika dilihat, sama halnya menegaskan tanpa tanda seru dan menanyakan tanpa tanda tanya. Mungkin tak berarti bagi sebagian orang. Tapi terkadang, sedikit sederhana berkurang, keelokkan berangsur meluruh. Ya, diantara dua tanda itu.

Mari kita sebut saja, tanda seru sebagai ketegasan dan tanda tanya sebagai keraguan. Dua hal itu, mungkin bisa saja dilupakan olehmu, kalian atau siapapun yang sudah suntuk dengan kesabaran atau terlalu sulit mencari kesabaran. Terkadang, dibuang sayang, disimpan malah menjadi terbayang-bayang. Atau bahkan semakin dibuang semakin terbayang-bayang? Atau, malah semakin kau tegas yang ada malah semakin membekas? Sulit bukan?

Itu karena terkadang kita hanya membicarakan permasalahan massive saja. Akibatnya, yang kecil malah terabaikan, yang besar semakin menjadi besar. Tapi mungkin itu wajar, terkadang yang terlihat, lebih kita sukai ketimbang yang tak terlihat kan? Atau terkadang, malah yang tak terlihat membuat kita semakin menjadi lebih dekat? Atau seperti apa masalahmu?

Harusnya, dua tanda itu selalu hadir berdampingan. Karena dua hal itu, bisa menyenangkan jika kita bisa atur kadar hadirnya. Coba lihat, –anggap saja– ketegasan itu penting, karena sekarang yang terbuang biasanya karena ketegasan jadi barang cadangan atau terbuang¬†karena tak ada yang meluruskan keraguan.

Dua hal itu, saling menguatkan. Atau bisa saja, saling menenggelamkan. .

(…)

Jakarta, 9 Juni 2015 

Rinduku Memuai di Ujung Hari Itu


Rinduku memuai diujung hari itu. Namun, seandainya ia berubah menjadi bentuk yang lain –meski dengan api ku bakar rindu itu hingga menjadikannya abu-, aku tetap menyebutnya rindu. Bahkan tak sedikit orang berucap, rindu yang ku maksudkan itu memang abadi, meski sepintas ku rasakan, wujudnya berganti-ganti. Tapi ia tetap satu!!

Continue reading “Rinduku Memuai di Ujung Hari Itu”

[r]asa


Jika masa dapat ku putar balik,
maka aku akan berhenti sejenak memeluk waktu,
melihatmu tersenyum kecil. . hanya untukku.

Continue reading “[r]asa”

Jika suatu saat…


Jika suatu saat ada duri yang mengenaimu hingga kaupun terluka,
berharaplah itu bukan berasal dari duri peluhku.

Continue reading “Jika suatu saat…”

Kekasih, sedang apa kau disana?


Kekasih, sedang apa kau disana?
Masih kah kau berkutat dengan tugas akhirmu yang seabrek itu?
Entah kenapa, sekarang langit bandung masih tetap sama. Merah merona langit, memerahkan setiap jalan menemani orang-orang sepulang kerja. Berbondong-bondong, dari arah buah batu, hingga dayeuh kolot tak pernah senggang dari motor-motor, mobil-mobil sampe bapak-bapak pendorong gerobak yang mungkin akan memasang tenda-tenda jualan malam ini. Macet, memang. Bandung seakan tak pernah rela sepi beranjak dari peraduan itu. Hujan sudah memudar perlahan. Jalan-jalan berdebu menandakan ia tak pernah bersentuhan dengan senyuman air Tuhan. Suasana kampus sudah berada seperti adanya. Semenjak berubah menjadi universitas, lingkungan kampusku menjadi ramai, mungkin sama halnya dengan kampus Ganesha di jalan Dago sana. Aku menulis ini, karena aku teringat sore itu, senyummu merona.

Continue reading “Kekasih, sedang apa kau disana?”

(Mungkin) Tuhan Menciptakan Cinta Memang untuk Membutakan


Banyak sekali yang menyebutkan cinta itu membutakan. Mungkin sebagian orang hanya mengambil kesimpulan ini karena banyak sekali melihat orang yang rela melakukan apapun “demi cinta“. Coba lihat sekeliling kita saja, teman-teman kita, saudara kita, atau bahkan kita sendiri menyadari tentang hal itu. Tidak salah memang, tapi saya punya definisi “Cinta Itu Membutakan” yang mungkin agak berbeda dari pandangan diatas. Continue reading “(Mungkin) Tuhan Menciptakan Cinta Memang untuk Membutakan”

Kebahagiaan Itu Sederhana Kan?


Masa kanak-kanak itu adalah masa dimana semuanya menganggap “kebahagiaan itu sederhana“. Bermain bola dari kertas, bermain dibawah hujan, saling lempar lumpur disawah, mandi di sungai, bahkan mendapatkan layangan putus seharga Rp. 500 saja senangnya minta ampun. Mereka tidak pernah melihat, bagaimana membuat bola yang sempurna ketika bermain, tidak pernah berpikir bagaimana susahnya mencuci baju yang kotor, bagaimana kondisi (bersih atau tidaknya) air yang mengalir, bahkan apa saja bahaya mengejar layangan putus seharga Rp. 500 kan?
Continue reading “Kebahagiaan Itu Sederhana Kan?”

Ini, Tentang Kesempatan


Kesempatan, terkadang tidak datang dua kali. Ditunggu hingga waktu memakan warna hitam rambutmupun, tidak mengubah ia untuk hadir sama kepadamu. Atau mungkin sebaliknya, de javu berulangkali membuncah hingga otakmu bolak-balik -“ngalor ngidul“- bertemu hal yang sama dan memadati cerebrum otakmu bagian demi bagian. Tapi saat kau diamkan sejenak, lalu kau ambil hikmah dari kesempatan-kesempatan liar yang datang, anggap saja, itu bagian dari mengisi cerebrum otakmu,¬†untuk kau isi dengan kesempatan yang kau coba buat sesuai dengan fatwa hatimu. ¬†

Continue reading “Ini, Tentang Kesempatan”