Azalea


Sudah bosan ya dek didalam? 3 minggu kamu pangkas, katanya sih biar lebih cepat ketemu ayah sama bunda. Rabu pagi ayah kaget, bunda chat ayah sambil cengar-cengir, katanya sudah bukaan 1. Itu pas mau berangkat kerja. Gelagapan bingung gak jelas karena belum ada persiapan apa-apa buat pulang. Deg-degan ini bunda emang beneran atau cuma kasih prank ala-ala tontonan di Garuda. Dan yang paling buat bingung, beberapa pakaianmu yang ayah belikan, juga masih berserakan entah dimana.  Continue reading “Azalea”

Memahami Fotografi


Memahami fotografi tingkat terendah adalah memahami teknik. Yang tertinggi adalah memahami “isi”. Memahami fotografi tingkat sedang adalah memahami soal komposisi, angle pemotretan dan moment. Memahami soal teknik dalam fotografi bisa penting bisa tidak. Dengan mode otomatis, soal teknik sebenarnya bisa diabaikan. Memahami soal teknis jadi penting manakala sering memotret dalam kondisi sulit seperti memadukan dua macam pencahayaan.  Continue reading “Memahami Fotografi”

#restu


***

Hari ini, masih sama. Jam menunjukkan pukul 19.36. Jakarta masih malu-malu menampakkan kegaduhan seperti biasanya. Petrichor menyembul dimana-mana. Hujan sejak tadi siang, membuat aroma bau-bau sungai kotor-tempat sampah pinggir jalan- juga asap kendaraan sedikit demi sedikit menghilang entah kemana.
Continue reading “#restu”

5 “Pembunuh” Corporate Cultures


Membahas masalah budaya organisasi memang tidak ada habisnya. Ada yang menganggap budaya itu sepele, ada juga yang menjadikan “budaya itu harga mati. Jamaah bagian kedua ini tergambarkan oleh quotes dari Tony Hsieh yang mengatakan bahwa “for individuals, character is destiny. But for organizations, culture is destiny” (cited from Laporan Semester I-2016 Tim Budaya Lembaga Pengelola Dana Pendidikan)

culture
culture (http://www.industryweek.com/)

Disela-sela saya mencari mengenai corporate culture, saya menemukan artikel yang lumayan menarik dari Tim Hebert yang saya kutip langsung dari Blog Atrion tanpa merubah sedikitpun kalimat. Yang menurut saya penting, ada di bagian bold Continue reading “5 “Pembunuh” Corporate Cultures”

People Work for People not for Businesses


Di awal tulisannya, dia menuliskan quotes yang menurut saya cukup menarik (remember“People work for people – they do not work for businesses”.

Tulisan dibawah merupakan tulisan dari Donn Carr -President dari Principal Carr Management Group- yang entah kenapa langsung membuat saya “klik” pas baca statement awal dari artikel ini. Tulisan ini saya copas tanpa merubah satupun kalimat di dalamnya. (Donn Carr Bio LinkedIn)

Happy read and learn!! Continue reading “People Work for People not for Businesses”

Sila Pertama: “Keuangan” Yang Maha Esa


Kemarin coba motoran dari Margonda ke Cikini jam 10 malam, ternyata cepat juga ya. 40 menitan lah, udah kepotong sama lampu merah pancoran yang lama banget, plus kecepatan motor yang udah mentok gak mau di geber lagi. (heuheuheu) Belum termasuk bawaan yang lumayan hits banget.

Jakarta malam hari itu enaknya minta ampun. Asal gak ada begal sama preman yang berhentiin motor loh :). Seminggu yang lalu, dengan rute Cikini-Margonda berangkat habis maghrib waktu tempuh 2 jam. Waktu yang sama naik pesawat Jakarta-Medan atau Jakarta-Yogyakarta (PP) atau waktu yang sama buat pertandingan bola sudah plus perpanjangan waktu dan waktu istirahat. Mungkin udah termasuk waktu buat foto-foto juga sama fans-fans kali. Atau malah itu ukuran waktu yang lumayan panjang buat nge-po-in diskon-diskon di Zalora, atau bahkan ngeliatin instanya @raisa6690 sama yang lagi terkenal @kutudjangkrik dari post terbaru sampai post paling buncit. :mrgreen:

Continue reading “Sila Pertama: “Keuangan” Yang Maha Esa”

Tombo Ngantuk


Hari ini, -seperti biasa- rutinitas kerja yang mungkin terbilang monoton di kantor. Untung ada dua kotak nasi hasil dari dua rapat. Lumayan, itung-itung ngirit isi dompet keluar demi beli sebongkah berlian dan sekarung gandum untuk ngelamar anak orang. Oh ya, satu lagi. Sama gak ketinggalan ngelamarnya pakai seperangkat alat mendaki gunung, photography dan snorkeling. (*kodegariskeras*). Sok lah kalo misalnya ketiga perangkat tersebut jadi inspirasi pembaca sekalian. 🙂  Continue reading “Tombo Ngantuk”

Manusia (yang katanya) Sebagai Intangible Asset


Setelah sebelumnya saya menulis opini tentang bagaimana birokrasi berpengaruh di dalam dunia kerja (Blackbox Sistem Birokrasi), kali ini saya mencoba memberikan sedikit opini mengenai Manusia sebagai Intangible Asset. Yang patut digarisbawahi, saya ini bukanlah bagian dari divisi Human Resource Development atau pemangku kepentingan yang bergelut di bidang pengelolaan aset manusia, tulisan ini hanya merupakan opini/preferensi saya pribadi dalam keterbatasan ilmu yang saya miliki. Perbedaan opini atau –mungkin dapat dikatakan– lebih cocok memilih kearah mana, saya serahkan sesuai dengan fatwa hati masing-masing pembaca.

Dalam dunia kerja, saya beranggapan bahwa manusia itu adalah aset yang paling berharga di suatu perusahaan. Karena disebut aset, maka pemeliharaan aset menjadi kewajiban. Pemeliharaan itu adalah tindakan untuk menjaga, agar aset tetap sesuai dengan kapasitas yang ada. Sehingga dari hal tersebut, aset bisa memberikan impact seperti yang diharapkan. Pemeliharaan juga bisa berarti proses upgrade. Kenapa diklasifikasikan sebagai upgrade? Karena kebutuhan masa depan semakin meningkat. Ilmu yang ada sekarang, belum tentu bisa available untuk satu tahun, lima tahun atau 10 tahun kedepan. Oleh karenanya, jika tidak mau tertinggal atau bahkan stag dengan kondisi perusahaan seperti saat ini, pastinya aset harus diupgrade. Anggap saja, upgrade itu harga mati.  Continue reading “Manusia (yang katanya) Sebagai Intangible Asset”

Suntuk


Sepenggal tulisan lama dari tumpukan sisa-sisa kegiatan menulis satu tahun yang lalu ketika patah tulang.

Pemalang, 12 Maret 2014

Hampir 3 bulan sudah, terkapar lebih banyak di rumah. Menikmati udara lembab musim penghujan. Membuat keluar untuk melihat udara sekitar saja malasnya minta ampun. Hujan setiap hari, apalagi luka balut yang harus dijaga untuk tidak terkena air membuat “lagi-lagi” memilih untuk di rumah. Belum jalan yang agak rusak akibat pengikisan oleh hebatnya tubrukan air yang turun dari langit. Goncangan sedikit saja, tangan yang patah masih belum bisa mentoleransi hal itu. Padahal, sudah hampir 3 bulan.

Continue reading “Suntuk”

Blackbox Sistem Birokrasi


Selamat malam, langit sudah mulai gelap. –saatnya menulis

Buat saya pribadi berada di lingkungan kerjaan yang memang menganut paham “birokrasi-isme” rasanya sungguh luar biasa. Anak teknik yang memang terkadang gak suka yang namanya ribet apalagi banyak aturan eh malah sekali kecemplung ke kolam, kecemplungnya di kolam dengan sistem pengairan yang berjenjang. Hierarchy. Up to down level yang terkadang buat saya pribadi menilai pekerjaan satu jam bisa molor jadi pekerjaan satu hari.

Saya mengibaratkan birokrasi adalah black box. Black box saya ibaratkan “sistem birokrasi”. Karena memang black box, jadi kita sendiri tidak akan tahu di dalam bentuknya seperti apa. Seberapa panjang jalan informasinya, seberapa cepat kecepatan antar medianya, seberapa besar kapasitas penampungan informasi antara satu titik dengan titik yang lain dan yang lebih ngeri lagi tidak ada skema yang paten menjelaskan bagaimana birokrasi itu dibentuk. Sama seperti security sistem yang mempunyai enkripsi dari ribuan pola kriptografi modern saat ini. Banyak sekali. . Continue reading “Blackbox Sistem Birokrasi”