Terres de café Bourdonnais


Pekan ini adalah pekan 9 Working from Home. Literally working from home

Saya pengen cerita sedikit.

9 pekan WFH ini benar-benar gila. Kerjaan full. Telemeeting full. Bayangkan, menjaga ritme kerja ketika kita disaat yang sama sedang berusaha mengubah kebiasaan itu bener-bener melelahkan. Belum jika WFH ini didukung sinyal yang ambyaaar.

Kalo ku pikir-pikir, sedikit flashback mungkin 2 pekan pertama jadi semacam riset sana-sini cuma berkutat tentang

masalah menentukan provider mana yang cocok untuk mendampingi WFH.

Disinilah saya baru sadar, kalo misal nanti cari rumah jangan pelosok-pelosok amat, minimal ada jaringan fiber yang bisa masuk tanpa pasang tiang yang berbelit-belit. Tapi apa iya Kabupaten Bogor itu masuk pelosok?

Mbuh!

Continue reading “Terres de café Bourdonnais”

Power Tools Teman Nukang di Rumah


Sebagai jamaah dan sekaligus pegiatrumah sempit” yang dari tahun 2014 berkeliaran di sekitaran Jabodetabek, rasa-rasanya pengaturan barang jadi penting banget untuk dipelajari. Sempat berpikir keras gimana caranya barang rapi nempel tembok ditambah sesekali baca ilmu declutter perlahan saya beli alat-alat pertukangan untuk merapihkan rumah. Ya meskipun agak beda jalur ya antara rapi dengan declutter, tapi buat saat ini 2 jalur itu yang masih saya pelajari perlahan. (Menghilangkan Rasa Eman (rasa sayang akan sesuatu hal) itu susahnya minta ampun. haha. . . )

Disamping itu, karena dulu saya tinggal di daerah Jakarta Pusat dan fakta bahwa banjir ini bisa kapanpun terjadi, maka protokol utama mbuh kepiye carane sebisa mungkin barang gak napak ke lantai. Dan percaya atau gak, style itu kebawa sampai sekarang. 🙂

Emm. . Kecuali kulkas sama mesin cuci ya. Susah itu kayaknya buat gak napak ke lantai atau nempel ke tembok.  Continue reading “Power Tools Teman Nukang di Rumah”

Perspektif Pak Broto tentang Sosok Kultusan


sebelumnya baca ini dulu Katanya sudah di-kultus-kan

Dalam perspektif Pak Broto -yang saya pahami pas kapan waktu diskusi bareng dengan Pak Broto di pos satpam- gosip kompleks itu sumber terpercaya ketimbang tayangan tv jaman sekarang. Kalo ngomongin gosip, Pak Broto itu gak mau di panggil satpam. Maunya detektif kompleks ~Sudah macam detektif conan saja tapi dengan kearifan lokal~. Gimana gak gitu, dari masalah kampung sebelah, permasalahan politik pemancingan warga, konflik pemilihan ketua RW, sampai masalah bulan depan harga ayam potong naik Pak Broto jelas sudah khatam hipotesanya.  Continue reading “Perspektif Pak Broto tentang Sosok Kultusan”

Katanya Sudah di-Kultus-kan


Hari ini Cikini lumayan lenggang, proyek trotoar 75M yang melintas di depan kantor “tumben banget” gak memacetkan sore ini. Bahu kanan sepanjang jalan menuju stasiun Cikini sudah lumayan jadi meskipun beberapa “plang” belum di pasang. Sesekali juga saya lihat ojol sedang liat googlemaps sembari split screen liat koplo abah lala. Cendol dawet gaaaaan!

Senja jadi apik. Lintasan motor-motor menyelingi semburat cahaya yang terkadang menerobos masuk ke mata. Beberapa saya lihat, sembari memegang handphone di tangan kanannya sambil swipe swipe, pejalan kaki dengan asyiknya bersendagurau berduaan dengan HP mereka. Senyum tipis-tipis berada di wajahnya meskipun secara utuh saya tau, mereka lelah, hari ini. Continue reading “Katanya Sudah di-Kultus-kan”

Yuk!! Siapkan rencana liburanmu di tahun 2020


Selamat senja!!

Sebagai budak birokrat dan pekerja kantoran , merencanakan liburan itu penting! Waktu cuti yang hanya 12 hari, ditambah kadang gak bisa ijin karena gak boleh sama atasan ataupun menteri keuangan rumah tangga yang gak kasih “visa”, kayaknya penentuan tanggal bakal jadi harga mati berkaitan dengan pernegoan-duniawi. 🙂  Continue reading “Yuk!! Siapkan rencana liburanmu di tahun 2020”

Cerita Nostalgia dari Trotoar Cikini


Siang ini sembari pergi ke masjid untuk Jumat’an kebetulan lewat depan SMP Negeri 1 Jakarta. Itu lo, lokasinya hampir di pertigaan cikini raden saleh kalo kalian lewat. Sekarang sih sedang ambyar ya, kanan-kiri trotoar sedang dilakukan revitalisasi. Gulungan-gulungan kabel, debu sedang peak banget buat pejalan kaki. Apalagi kalo kalian jalan ke stasiun cikini tiap harinya. Meskipun sekarang sudah agak mendingan, kanan jalan trotoar sudah lumayan jadi, meskipun belum jadi banget.
Continue reading “Cerita Nostalgia dari Trotoar Cikini”

Terkadang


Terkadang memang susah mencoba mengajak seseorang berpikir lebih luas. Helicopter view kalo bahasa jaman sekarang. Maunya instan, hasil. Tapi gak pernah lihat proses. Mungkin dikiranya, kurikulum Bandung Bondowoso sudah menggeser KBK/KTSP/apalah itu kurikulum saat ini ada. Saya kurang begitu paham. PPKn masih ada kan? atau sudah berubah nama? Continue reading “Terkadang”

$66


Sudah lama gak update, kamu masih ngingetin buat jangan ngelupain.
Sudah lama gak ada kabar, tiba-tiba kamu muncul dengan banyak permintaan.
Sudah lama dilupakan, kamu malah muncul dan maunya diterusin.
Kamu juga kasih potongan harga, tapi nyatanya aku bergeming.
Kamu bilang, mau lanjut atau udahan.
Continue reading “$66”

Kembangkan Bisnismu melalui Coworking Space


Setelah membaca beberapa artikel mengenai millenial era yang sedang berkembang saat ini, saya rasa “industri” dan new style of life dari  coworking space jadi salah satu bahasan yang sangat menarik untuk di ketahui. Lingkungan kerja yang tidak seperti biasanya, waktu kerja yang flexible, mengandalkan bekerja dengan open office (which is mungkin temen-temen akan lebih ngeh dengan desain yang mirip tema green office) bukan hanya cubical atau streak kerja di satu tempat, atau bahkan ingin merasakan new style of marketing yang mengandalkan “kepo-kepo” antar pengguna coworking space. Menarik kan?

816289-002
Suasana cubical office (via http://i.huffpost.com)

Sebelum membahas lebih banyak, saya ingin mengenalkan mengenai coworking space supaya lebih memudahkan teman-teman membaca sisa tulisan ini.


Apa sih Coworking Space?

(1) Coworking is a style of work that involves a shared working environment, often an office, and independent activity. Unlike in a typical office environment, those coworking are usually not employed by the same organization. Typically it is attractive to work-at-home professionals, independent contractors, or people who travel frequently who end up working in relative isolation. (via wikipedia.org)

(2) Coworking is a social gathering of a group of people who are still working independently, but who share values, and who are interested in the synergy that can happen from working with people who value working in the same place alongside each other. (via wikipedia.org)

(3) The coworking business model has three main characteristics.  Operators offer different businesses, rental offices and desk spaces on a shared floor. The operator provides flexible terms allowing renters to move in and out and upgrade or downgrade with short notice periods. Perhaps the most important characteristic, the operator designs community building programs and events to create a strong business network among its renters. (via forbes.com)

(4) […] Technologists, programmers, and creative professionals wanted to work outside confining office environments but also to avoid the isolation of home offices. They chose to work side by side, in what are known as coworking spaces. They were accessible to anyone and sometimes free. People who chose to work in those spaces intentionally sought members from different organizations, thus reproducing the community, social interaction, learning, and energy typical of their online work, while adding the benefit of physical proximity to others. Unwittingly, they were “engineering spaces” to create the exploration that we know enhances creativity. (via hbr.org)

Simpelnya seperti ini, coworking space merupakan suatu tempat area kerja yang bisa digunakan oleh banyak orang (shared working environment). Tidak hanya itu, dalam salah satu seminar TED pada tahun 2013, Amarit Charoenphan menyimpulkan bahwa coworking space terdiri dari 3 “menu” utama yaitu cooperation, colaboration and community. Artinya, bahwa coworking space bukan hanya semata-mata seperti kerja di kedai kopi -yang hanya duduk diam dipojok ruangan sambil ditemani segelas capuccino/caffee latte/single origin manual brew-, tetapi juga berfungsi sebagai tempat “inkubasi” bisnis“diseminasi” bisnis bahkan kerja sama secara profesional antar sesama coworkers

coworking space triyogaadiperdana.com - singapore
Suasana coworking space di Impact Hub Singpore (via https://www.braintreepayments.com)

Lebih lanjut saya kutip dari C2live menjelaskan bahwa: Pertama, coworking space mengutamakan prinsip komunitas yang mengajak seluruh anggota dan tenant untuk saling berinteraksi dan berkolaborasi. Mulai dari segi konsep open design yang memberikan kemudahan untuk komunikasi hingga acara networking rutin, coworking space sangat cocok bagi kaum profesional dan entrepreneur yang percaya bahwa kolaborasi merupakan salah satu kunci kesuksesan. Kedua, coworking space juga menjadi lahan sempurna untuk mencari inspirasi dan pengetahuan dalam berbisnis. Berkat ekosistem tenant yang berasal dari latar belakang yang sangat bervariasi, seluruh anggota coworking space akan terus mendapatkan banyak insight menarik dari berbagai industri bisnis. Anggota coworking space juga berkesempatan belajar dari banyak pakar yang diundang menjadi pembicara workshop.


Yang paling menarik dari Coworking Space?

Hasil riset dari 45 CS’s di seluruh dunia, Jennifer Magnolfi (via hbr.org) menyatakan “discovered that people had chosen them because they believed that their performance would improve more rapidly in such spaces than in an office building or at home”.

Lebih lanjut dijelaskan, “A 2011 Deskmag survey of more than 1,500 coworkers in 52 countries supported her findings: 75% reported an increase in productivity since joining their space, 80% reported an increase in the size of their business network, 92% reported an increase in the size of their social circle, 86% reported a decrease in their sense of isolation, 83% reported that they trusted others in their coworking space.

Untuk startup sendiri, saya rasa dengan melakukan coworking space dapat menciptakan zero marketing costs. “Deseminasi” bisnis dapat dilakukan dengan hanya mengandalkan mulut ke mulut yang menurut saya lebih efektif daripada mengirimkan proposal bisnis melalui email. Perkenalan melalui “old style” yang juga mengandalkan pertemuan face to face (-pun juga sambil ngobrol ngalor ngidul tentang kesukaan, pengalaman hidup atau bahkan kesedihan-) lebih efektif dibandingkan hanya sekedar mengirimkan CV melalui email. 

Travel blogger, freelance company, early startup, dll dapat memaksimalkan penggunaan coworking space ini menjadi salah satu milenial style yang dapat memberikan kesempatan yang baru untuk belajar dan bekerja, menambah relasi dan pengembangan bisnis serta dapat menumbuhkan pemikiran yang open minded karena bisa bertemu dan ngobrol dengan beragam latar belakang pekerjaan.

“Co-working is not the trend-setter, is it the byproduct of how things have changed,” says Vohra. “Some businesses will always need their own offices because of the nature of their work. But for a business like mine, our infrastructure isn’t fixed. It exists on laptops, or in the cloud – we can work from anywhere in the world. Work is not constrained by physical space anymore.” (Vohra via theguardian.com) 

Tertarik?

Buat temen-temen yang ada di Jakarta, terdapat satu coworking space yang patut untuk kalian coba. Kalian tidak perlu ke Singapore untuk mencoba bekerja di coworking space seperti yang saya jelaskan di awal artikel ini. Namanya EV HiveCoworking space yang berbasis di Jakarta dan BSD, sudah ada di beberapa lokasi di Jakarta

– JSC Hive (Kuningan) JL. Prof Dr Satrio No. 7, Karet Kuningan, Jakarta Selatan.
– EV Hive The Maja (Kebayoran Baru) The Maja Lantai 1, Jalan Kyai Maja No. 39.
– EV Hive Dimo (Menteng) Jl. Timor No.6, RT.9/RW.4, Gondangdia, Menteng
– IFC Hive (Karet) Jl Jendral Sudirman Kav. 22-23, RT.10/RW.1, Karet
– EV Hive The Breeze (BSD City) The Breeze Unit # L 69-70, Jl. Grand Boulevard, BSD
– Satellite @SCBD (Kebayoran Baru) Equity Tower 8th Floor, Suites 8B. Jl Tulodong Atas 2, Senayan, Kebayoran Baru
– D. LAB (Menteng) Jalan Riau No.1, Menteng, RT.9/RW.5, Gondangdia

Spoiler untuk EV Hive. 🙂


Apa yang ditawarkan?

Sebagai bentuk coworking space, EV Hive juga tidak hanya menyediakan fasilitas untuk bekerja saja. Buat kalian yang kesana, EV Hive juga menyediakan koneksi internet yang cepat, mailing address agar kalian gak repot untuk mengirim dan menjemput kiriman, free flow coffee biar tambah seger sewaktu bekerja dan storage space untuk merapihkan barang-barang bawaan kalian. 

amneties evhive triyogaadiperdana

Uniknya lagi, EV Hive ini tidak hanya sebagai coworking space company saja, tetapi secara rutin EV Hive juga mengadakan workshop (free dan paid) dari beberapa partner EV Hive yang diadakan di beberapa cabang EV Hive yang ada di Jakarta. Hal ini dilakukan, karena EV Hive sendiri mempunyai misi untuk membantu pengembangan ekosistem startup (perusahaan teknologi) di Indonesia. Kegiatan-kegiatan seperti cara mendapatkan investasi dari investor teknologi, hingga bagaimana cara menciptakan produk teknologi sesuai dengan permintaan market akan banyak di jumpai di event-event yang diadakan oleh EV Hive.

event-event di eventbrite ev hive triyoga adi perdana
Event dari eventbrite EV Hive

Yuk kepoin acara yang akan mereka adakan disini.

 


Buat saya pribadi jika dilihat secara simple, EV Hive sebagai coworking space yang ada di Indonesia sebenarnya hanyalah sekedar menyewakan ruangan tempat bekerja bagi kalian yang bosan dengan area kerja itu-itu saja, orang itu-itu saja atau bahkan obrolan itu-itu saja. Tetapi jika kalian melihat lebih jauh lagi, sebenarnya dengan kalian “mampir” untuk sedikit bekerja di coworking space kalian akan banyak sekali menemukan ide, interaksi, inovasi, bahkan relasi yang secara gratis akan kalian dapatkan secara cuma-cuma. Kalian akan menemukan bagaimana dari pertemuan satu orang-dua orang bahkan lebih akan menghasilkan kerjasama mengasyikan yang bukan hanya sekedar internetan dan se-sruput kopi gratisan. 🙂

Jadi, berminat untuk menemukan dan mengembangkan ide bisnis kalian disana? 

Jakarta, 4 September 2017


Notes:
– featured image diambil dari http://globetrendermagazine.com

Prelo, Aplikasi tempat Menjual “Para Mantan”


Jadi idenya gini, “pernahkah temen-temen berpikir bahwa barang bekas yang kita miliki bisa bermanfaat bagi orang lain lebih besar dibandingkan menjadi barang tumpukan di gudang kita?” Atau gini deh, saya ubah sedikit diksinya, “pernahkah temen-temen berpikir bahwa barang bekas yang kalian miliki bisa bermanfaat bagi saya lebih besar dibandingkan menjadi barang tumpukan di gudang kalian?” 🙂

Setuju kan?  Continue reading “Prelo, Aplikasi tempat Menjual “Para Mantan””