Berteman Sepi


Tak sudikah kau tersenyum barang “sedikit” saja untukku saat ku kan pergi? Bahuku sudah cukup lelah, menjaga tas agar tak jatuh dalam asmara bumi dengan gravitasi. Jarum waktu berputar tanpa bersentuhan, gerakannya acak. Aku hanya bisa sesekali memancing kau tuk bicara, namun satu jam menunggu, yang ada hanya diam dan suara klakson kereta akan berangkat.Β 

Tak sudikah kau bertanya “bagaimana tidurku” tadi malam saat ku kan pergi? Kelopak mata selalu mencoba berhimpit, meskipun aku mencoba memisahkan mereka dengan rasa capek selangit. Kebebasan memejamkan mataku diperkosa oleh nyamuk-nyamuk tadi malam. Mereka bercanda dengan cara mereka sendiri, memabukkan.

Tak sudikah kau berkata, “hati-hati” dengan nada manjamu saat ku kan pergi? Bisingnya stasiun tadi pagi merayapi sekujur tubuhku yang sakit. Menyelinap dalam lobus yang berdekatan dengan akal satu demi satu. Memekakkan apapun yang masuk di telingaku. Termasuk deretan nada penyusun kata “hati-hati” mu itu. Mana?Β Masih adakah harapan untuk tidak “berteman sepi” suatu saat nanti?

Sidomukti, 1 April 2014

Author: Triyoga AP

Salam kenal, panggil saja Yoga. Suka travelling dari dulu (kebanyakan solo backpacker). Suka fotografi (meskipun bukan profesional). Kadang-kadang mengisi waktu luang dengan naik gunung, camping ceria, gowes, trail running, sama woodworking. Di sela-sela kegiatan itu, saya juga masuk jamaah penyeduh kopi mandiri di rumah. Kebanyakan manual brewing. Semoga dapat bertemu di dunia nyata. Cheers!! :)

36 thoughts on “Berteman Sepi”

Yuks!! Ngobrol di mari.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s