Jamu [yang] Pahit


Keberkahan itu datang dari jalan yang berkah
Ujung, dan akhir yang berkah
Masa depan yang cerah, keturunan yang baik, juga di dapat dari jalan yang berkah
Lalu, mengapa kita selalu menguraikan keberkahan itu dari jalan yang pintas? Paling-paling karena kita tidak sabar menunggu keberkahan itu kan?
Atau mungkin, kita terlalu sulit menghindari manisnya jalan yang lain?
Ah, masa bodo. Yang terang ya terang meski itu pahit.
Pahitnya jalan itu bak jamu kali ya? Saat meminum, mungkin pahit.
Tapi pahitnya jamu yang kita minum sekarang,
jadi oleh-oleh manis bagaimana membentuk keberkahan kita
dimasa yang akan datang.

Bandung, *sekedar muhasabah malam, 8 September 2012

Author: Triyoga AP

Salam kenal, panggil saja Yoga. Suka travelling dari dulu (kebanyakan solo backpacker). Suka fotografi (meskipun bukan profesional). Kadang-kadang mengisi waktu luang dengan naik gunung, camping ceria, gowes, trail running, sama woodworking. Di sela-sela kegiatan itu, saya juga masuk jamaah penyeduh kopi mandiri di rumah. Kebanyakan manual brewing. Semoga dapat bertemu di dunia nyata. Cheers!! :)

84 thoughts on “Jamu [yang] Pahit”

    1. Hehehe. . Wah, jamuers nih. πŸ˜€

      Ya gitu mba. Terkadang kita terlalu instan buat mendapatkan yang manis. Akibatnya ya langsung tabrak aturan yang ada. Gimana mau berkah kalo gitu? *semoga kita bukan termasuk yang seperti ini mba. πŸ˜€

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb….

    Semua itu berakibat dari rasa kurang sabar dalam menempuh kesulitan hidup sehingga mencari jalan singkat yang dianggap mudah untuk mencapai kejayaan atau kebahagiaan.
    Hidup ini tidak ada yang mudah dan indah.

    Semuanya harus diteroka dan dijalani sendiri untuk mencapai apa yang dikehendaki dengan berbekalkan ilmu, iman dan amal serta akal yang mengimbangi segala emosi yang dangkal.

    Kata-kata anda sungguh menginspirasikan untuk bersemangat menghadapi kesulitan hidup.

    Salam kenal dari Sarikei, Sarawak.

  2. akhir-akhir ini saya tertarik tentang kata ‘berkah’. Bukan akhir-akhir ini sih, tapi sudah lama dan sampai sekarang masih tertarik dengan kata ini. Berkah, barakah, barokah.. indah yaaa kata itu..
    “Rezeki itu”, kata salim A Fillah “Sudah ditentukan oleh Alloh, mau diambil lewat jalan halal atau haram dapatnya segitu juga”
    “Begitupun dengan jodoh, sudah ditentukan secara pasti dengan si dia, mau diambil lewat jalan halal atau haram dapatnya ya itu juga.”
    “Yang membedakan adalah rasanya, rasa barokah itu”
    Hemmmm, dari dulu sampai detik ini masih tertarik dengan kata itu..

    (TumbenGakKonsletYa??) πŸ˜€

      1. Sek sek, tar jo kaget, nek postingan jamu mu ini tak share yoh..
        πŸ˜€
        InsyaAlloh, ingin ku kejar yang barokah barokah itu, asal gak ngejar-ngejar pak berkah aje, tar dimarahin bu berkah :mrgreen:

        AYeeeey, Trimakasih… #MembungkukkanBadanDanMemegangPinggiranRok

  3. mmmm…. manusia itu-kan unik,mas..
    berbeda karakter dan cara pandang hidup..
    ada yg pengen instan… sekali tenggak (jamu) langsung sehat misalnya..
    atau mungkin butuh waktu yg lama untuk menunggu khasiat jamu..

    semua tergantung waktu dan usaha *makin kesini makin ga nyambung*,hehehe *piiisss*

      1. kalau yg ini nyerah aku, belum bisa bikin sendiri di sini, bahannya itu lho yg langka, kali malah nggak ada

  4. saya sendiri gak keberatan sih minum jamu. tapi secara filosofis, ceile, saya setuju pahit itu adalah obat yang memberikan jalan kepada kebaikan nantinya.

  5. lah aku ga suka jamu mas… piye? 😦
    aku sukanya kopi. mungkin ada benere sampeyan… aku bebeh repot nang urip kie.. mulane uripku tersendat-sendat πŸ˜€

Yuks!! Ngobrol di mari.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s