Jebakan-jebakan kesepian


Kebetulan sekali menemukan sedikit artikel mengenai kesepian setelah menemukan buku lama yang ada di tatanan rak meja. Mungkin kata ini seringkali ada disekitar kita, ada di dekat kita, atau bahkan sudah tercatat di pikiran kita. Tapi terkadang nyatanya kita merasa enggan untuk dekat dengannya, karena terkadang kesepian menjadi awal bermulanya rangkaian cerita baru dengan tantangan baru yang belum tentu kita bisa datang, tersenyum, dan menggapainya.

Kesepian itu “diciptakan”. Bukan sesuatu yang tiba-tiba menghuni hati. Orang-orang berilmu kerapkali menciptakan jebakan kesepian bagi dirinya, di suatu titik ketika ia tidak lagi peduli. Ketika dia tidak mau tahu kiruk pikuk persoalan di sekitarnya. Disitulah ia terasing. Di situlah karyanya terhenti, hanya menjadi sekedar diktat atau kumpulan tulisan. Kesepian hanyalah akibat dari suatu sebab. Ia hanya hasil dari suatu proses. Kesepian yang negatif muncul karena proses-proses yang negatif pula.

Dalam berbagai hal, jebakan kesepian kerapkali muncul sebagai akibat penyikapan yang keliru pada kemajuan teknologi. Di satu pihak, teknologi mendukung dan memperbaiki kehidupan manusia. Tapi, di pihak lain, teknologi bisa mengucilkan, memencilkan, mengaburkan dan menghancurkan. Penyikapan yang sembrono dan pelarian  pada teknologi, bisa melahirkan kesepian dan keterasingan.

Jebakan kesepian sangat banyak. Kesepian sebagai sebuah pilihan yang keliru, hanya mengantarkan kita pada kelelahan jiwa. Dunia akan terus berjalan menuju segala pertumbuhan barunya. Ada kebaikan, tapi terlalu banyak keburukan. Sejarah mencatat bahwa akan selalu ada yang sukses dan juga ada yang gagal dalam menaklukan dunia, di zaman dunia masih sepi maupun ketika dunia telah ramai. Itu pilihan, demikian juga dengan kesepian

Tarbawi, edisi 152 Th. 8 Rabiul Awal 1428 H, 29 Maret 2007 *dengan beberapa penambahan 🙂

Mari bersama-sama, hindari jebakan kesepian. Winking smile

Bandung, 30 Juli 2012

Author: Triyoga AP

Salam kenal, panggil saja Yoga. Suka travelling dari dulu (kebanyakan solo backpacker). Suka fotografi (meskipun bukan profesional). Kadang-kadang mengisi waktu luang dengan naik gunung, camping ceria, gowes, trail running, sama woodworking. Di sela-sela kegiatan itu, saya juga masuk jamaah penyeduh kopi mandiri di rumah. Kebanyakan manual brewing. Semoga dapat bertemu di dunia nyata. Cheers!! :)

35 thoughts on “Jebakan-jebakan kesepian”

  1. Tapi kadang datangnya tiba2..
    [Tapi itu asalnya juga dari pikiran kita sendiri]
    (Deep sigh)
    Sekali lagi lepaskanlaah.. itu yang akan membuat pikiran menjadi enteng. Jadi kesimpulannya besok aku harus datang gak yuaa 😀

  2. Sepi seringkali menjadi teman untuk mengapresiasikan banyak hal, bahkan banyak sekali contoh kata sepi yang menjadi awal kalimat dalam sebuah karya tulis.
    Tapi yang saya maksud ini sepi, bukan keesepian loh mase.. 😆

    Sepinya waktu kala sendiri #nyanyi disek.. :mrgreen:

      1. Ogah ah kalu menyepikan diri, ntar malah dikira nyari nomer buntut.. wkxkxkxkx 😆

        Nah.., iku senengaku.., apalagi yen remix garapane nyai Soymah, isa mak DEB’s euy.. 😀

      1. betul, sayangnya aku durung dadi pujangga. 😦
        eh mbok jere sapa mbesuk… (ngarep) bisa gawe tulisan apik… tapi ya ra begitu muluk2 lah, sing penting nulis, nulis, trus nulis

Yuks!! Ngobrol di mari.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s